uyungs

Geliat Cina, Raksasa Ekonomi Baru

In wakil rakyat on Maret 5, 2009 at 3:42 pm

Prediksi Goldman Sachs Economic Research dalam Dreaming with BRIC’s: The Path to 2050 nampaknya akan terwujud. Cina dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 9-10 persen per tahun, yang oleh banyak pakar dilukiskan sebagai bentuk lompatan kuantum dalam pembangunan ekonomi, diprediksi akan menempati peringkat pertama dalam kekuatan perekonomian dunia di tahun 2050.

Konon pada awalnya reformasi ekonomi Cina terinspirasi percepatan pembangunan negara-negara Asia Tenggara pada akhir tahun 70-an. Pada bulan November 1978, Deng Xiao Ping melakukan lawatan bersejarah berturut-turut ke Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura dengan membawa serta rombongan besar. Deng tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan melakukan diskusi intens dengan Perdana Menteri Lee Kuan Yew, kampiun kapitalisme Asia, sepanjang lawatan tiga harinya ke Singapura. Sepulangnya Deng telah punya gambaran cetak biru bagi pembangunan ekonomi negaranya yang berpenduduk 1,3 milyar itu.

Model pembangunan yang kemudian ditahbiskan sebagai socialist market economy amat mengandalkan kebijakan industrialisasi pro bisnis dan pro invetasi asing dengan insentif berlapis. Untuk meredam kritik dari dalam negeri dikemaslah program industrialisasi tersebut dalam program eksperimen special economic zones (SEZs) yaitu hanya dalam wilayah-wilayah tertentu, terutama di wilayah perbatasan area-area industri yang sudah lebih dulu berkembang.

Eksperimen pertama dimulai di Provinsi Fujian dekat Taiwan dan Provinsi Guangdong dekat Hongkong. Begitu dua area industri baru ini sukses mengundang ratusan investor asing yang membangun pabrik karena tergiur upah rendah, kesiapan infrastruktur dan berbagai insentif pajak, maka pengalaman ini lalu ditularkan pada pembangunan secara terpadu tidak kurang dari 14 SEZs khususnya di sepanjang pesisir timur Cina.

Pada tingkat pendidikan dasar, langkah Cina yang mengundangkan Wajib Belajar di tahun 1986 dengan program pendidikan dasar sembilan tahun, telah membawa perubahan meningkatnya persentase melek huruf menjadi 80 persen di tahun 1990-an. Di akhir tahun 1990-an, Cina hanya mengalokasikan anggaran R&D kurang dari 1% dari total GDP, namun saat ini anggaran telah meningkat menjadi 1,5% dan direncanakan akan terus meningkat hingga mencapai angka 2,5% di tahun 2020. Hasilnya inovasi ilmu pengetahuan oleh para saintis Cina telah meningkatkan aplikasi paten sebesar lebih dari 130.000 pada tahun 2004.

Sejak tahun 1980-an, Deng mengirim ribuan pemuda cerdas ke negara-negara maju untuk studi. Deng percaya bahwa meskipun nanti hanya sekian persen saja dari mereka yang pulang kembali, kepulangan mereka pasti turut menentukan kesuksesan transformasi sosial ekonomi negeri panda itu. Menteri Pendidikan saat itu yang dijabat Zhao Ziyang, yang nantinya didapuk sebagai Sekjen PKC dan perdana menteri, diminta merumuskan strategi store brain power overseas. Kebijakan ini pada saatnya nanti dipadukan dengan reformasi ekonomi yang memungkinkan negara itu memanfaatkan peluang-peluang yang ditawarkan pasar terbuka dan perdagangan bebas.

Cina hingga saat ini berhasil mengembangkan 15 zona perdagangan bebas, 32 zona pembangunan teknologi-ekonomi setingkat-negara dan 53 zona pembangunan industri berteknologi tinggi di berbagai pelosok negeri. Setiap wilayah juga didorong untuk saling berkompetisi menarik pulang ‘returnees’ yang terdidik dan berpengalaman dengan menawarkan aneka insentif seperti pemotongan pajak, pemberian kredit lunak untuk berbisnis, kemudahan izin usaha, pembebasan biaya perkantoran, fasilitas perumahan yang baik, dan promosi yang lebih cepat.

Pada tahun 1995, Cina juga memulai perombakan BUMN secara besar-besaran, memecat tidak kurang dari 46 juta pegawai selama 6 tahun berikutnya. Pada tahun-tahun berikutnya program modernisasi dan perampingan ini terus berlanjut dan mampu mendongkrak profitabilitas BUMN-BUMN Cina. Sejak itu pula sektor swasta didorong mengambil peran yang lebih besar. Selama periode tersebut belasan buku tentang upaya transisi Rusia menerapkan kapitalisme diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Pemerintah Cina nampaknya mengambil pelajaran dari kekacauan di Rusia menyusul reformasi big-bang di negeri itu pada awal 90-an.

Eksperimentasi di bidang ekonomi ini sukses berkat pragmatisme radikal yang fokus pada upaya-upaya transformasi bertahap menuju pasar bebas atau menurut istilah Deng “menyeberang sungai dengan tetap menjejak bebatuan kali”. Di satu sisi pemerintah masih menerapkan tangan besi, namun pada saat yang bersamaan sektor swasta didorong sehingga menguasai separuh ekonomi Cina, dan bahkan 70 persen total perekonomian apabila kita memasukkan BUMN-BUMN yang pada kenyataannya dibolehkan beroperasi tak ubahnya perusahaan swasta. Coba bandingkan dengan peran swasta sebesar 17 persen di awal tahun 1990an. Sekitar 60 persen pertumbuhan PDB dan dua pertiga penciptaan kesempatan kerja baru datang dari sektor swasta.

Tergiur dengan berbagai iming-iming dan terkesan dengan basis infrastruktur ekonomi yang mulai tertata baik, ribuan pemuda terdidik Cina yang bekerja di luar negeri secara bergelombang mulai pulang kembali ke Tanah Air sebagai eksekutif profesional di berbagai perusahaan swasta atau sebagai calon investor, bahkan tidak sedikit pula yang kemudian bekerja di instansi-instansi pemerintah seperti lembaga investasi, bank sentral dan bapepam-nya Cina. Fenomena pembalikan brain drain ini dikenal dengan istilah brain gain atau reserved brain drain.

Pada 2006, Cina memproduksi lulusan universitas sebanyak 4,1 juta orang dengan 800 ribu lulusan diantaranya di bidang sains engineering, 12 kali lipat melampaui AS yang hanya 60 ribu. Ambisi Cina terakhir adalah memiliki 100 perguruan tinggi terbaik dunia sampai akhir abad ke-21 nanti, sehingga negara ini akan menjadi kiblat baru pendidikan. Untuk bidang Information and Communication Technology (ICT), Cina telah mampu mengalahkan Amerika Serikat sebagai pengekspor ITC terbesar. Pada tahun 2005 nilai ekspor Cina berkisar US$ 180 miliar, berada di atas nilai ekspor Amerika Serikat yang berjumlah US$ 149 miliar.

Dalam tempo tiga dekade setelah kunjungan bersejarah Deng ke Asteng, dunia menjadi saksi kemajuan ekonomi Cina yang sangat dahsyat, seperti tercermin pada rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 9%-10% per tahun. Keunggulan Cina yang makin diakui warga dunia mencakup pula nilai-nilai kebudayaannya yang meliputi bidang seni dan hiburan, fesyen, kerajinan tangan, nilai-nilai filosofi kehidupan, serta bebagai keunggulan lunak (soft advantages) lainnya. Kini dengan strategi promosi yang jitu, tempat-tempat wisata mereka yang eksotik mampu menyerap puluhan juta wisatawan asing dari seluruh manca negara.

Kini seiring memuncaknya krisis global, Cina bertekad meneruskan reformasi pasar di sektor-sektor kunci. Sektor perbankan adalah salah satu sasarannya. Cina kini bereksperimen dengan bentuk-bentuk produk pasar modal yang lebih canggih, seperti reksa dana, obligasi, dan produk-produk utang lainnya, dan bahkan option dan futures trading, meski terbatas pada future komoditas minyak yang terhitung sederhana. Bukan produk-produk derivatif njlimet yang kini justru menjerumuskan sektor keuangan negara-negara Barat.

Bahwa di masa krisis keuangan, pemimpin-pemimpin Cina memahami perlunya mengembangkan bentuk-bentuk sekuritisasi yang lebih canggih dalam rangka stabilisasi sistem pasar modal menunjukkan pemikiran yang stratejik dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan orang lain.

Sasaran kinerja yang gamblang adalah salah satu elemen dari etos efisiensi yang dikagumi bangsa Cina dari orang-orang Amerika. Empat dari lima pejabat tinggi pemerintah Cina kini menempuh studi di universitas-universitas Amerika Serikat terkemuka. Tak heran kalau The Kennedy School at Harvard sekarang punya julukan baru: “Sekolah Partai Komunis Ke Empat”.

Tulisan sudah dimuat di: kompasiana

  1. Cina memang maju dalam industrinya.

    Salam kenal mas,Link sudah saya add mas, mohon di linkback. Terimakasih.

  2. menurut catatan sejarah china sejak zaman dahulu kala sebelum masehi pun China udah menjadi negara adi daya. Jauh sebelum kemajuan bangsa-bangsa barat, china telah sedemikian maju dan besar ekonominya. Karene kemakmuran dan kemajuan bangsa china itulah mangkanya nabi Mohammad pun menyarankan supaya belajarlah sampai ke negeri China. Karena pada saat itu memeng negeri yang paling maju adalah negeri China. Sayangnya pada saat kekaisaran dynasty Qing, karena kaisar2 yg lalim dan durjana menyebabkan kemerosotan dan kemunduran yang luar biasa sehingga negeri china dirampok dan di intimidasi oleh keroyokan bangsa-bangsa barat. Salah satunya adalah politik perang candu selanjutnya pihak barat merampok kekayaan negara yg berlimpah itu melalui perjanjian2 yg sewenang-wenang dan kaisar dipaksa untuk membayar biaya perang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: