uyungs

Sultan, Jago Golkar Skenario ke 3

In Uncategorized on Februari 8, 2009 at 12:31 am

Pada pemilihan presiden lima tahun yang lalu, para elit Golkar sukses memainkan strategi ganda. Meski jagoan hasil konvensi Golkar Wiranto kalah suara dalam pilpres tersebut, kader Golkar lainnya Jusuf Kalla berhasil maju ke putaran kedua pilpres bersama Susilo Bambang Yudhoyono dengan sokongan koalisi partai-partai menengah. SBY-JK akhirnya memenangkan pertarungan melawan pasangan Megawati – Hasyim Muzadi dan kemudian dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia masa bakti 2004 – 2009.

Antara lain karena dorongan SBY, Jusuf Kalla berbekal posisi baru sebagai Wapres dan dukungan dana yang besar mampu merebut kepemimpinan Golkar dari Akbar Tanjung. Kekuatan uang nampaknya masih lebih menentukan siapa yang menjadi ketua umum Partai Beringin. Berkat jumlah kursi di parlemen yang dikuasai Golkar, Jusuf Kalla juga mampu bermain-main ‘lempar batu sembunyi tangan’ menaikkan posisi-tawarnya relatif terhadap kekuasaan presiden SBY. Beberapa jabatan menteri yang secara strategis menentukan arah kebijakan bangsa bisa disabet Golkar baik pada awal penyusunan kabinet maupun pada dua kali kesempatan resuffle.

Kekuatan Golkar ironisnya justru diprediksi akan terus melemah. Sejumlah kader kuat khususnya dari jalur A, para pensiunan jenderal tentara, satu demi satu meninggalkan partai kekaryaan yang dulu dibentuk oleh antara lain unsur militer sekutu Soeharto pada 20 Oktober 1964 dengan misi utama mengamankan kebijakan stabilitas rezim Orde Baru. Mereka antara lain adalah Wiranto yang membentuk Partai Hanura dan Prabowo yang mendirikan Partai Gerindra. Hartono juga mencoba peruntungan dengan partai barunya PKPB, belum lagi Edi Sudrajat yang membangun PKPI dengan merangkul Meutia Hatta.

Tiga skenario Golkar

Prediksi survei yang menyebutkan Golkar paling-paling hanya mampu bertengger di posisi ketiga dalam pemilu 2009 di bawah Partai Demokrat dan PDIP membuat risau para petingginya dan mendorong Golkar menyiapkan sedikitnya tiga skenario koalisi dalam pilpres 2009. Pertama JK tetap melanjutkan gandengannya dengan SBY. Namun kali ini posisi tawar PD dan SBY menguat seiring prediksi survei yang menyebutkan popularitas PD/SBY terdongkrak berkat kebijakan populis pemerintah akhir-akhir ini. Kalau kerja sama keduanya berlanjut, JK terpaksa akan menerima konsesi-konsesi yang jauh lebih terbatas ketimbang kontrak politik antara keduanya menjelang pilpres 2004. Konsesi yang terbatas tidak disukai karena berpotensi mengancam kepentingan pendukung Golkar khususnya dalam bidang ekonomi.

Skenario kedua mendorong Jusuf Kalla merajut koalisi dengan partai-partai potensial lainnya seperti PDIP atau bisa juga PKS. Koalisi ideal antara dua (atau malah tiga) partai besar ini sayangnya belum secara serius dipersiapkan terutama karena posisi canggung JK dalam menuntaskan komitmen dalam pemerintahan incumbent hingga masa jabatan betul-betul berakhir.

Sultan Hamengkubuwono X, jago Golkar lainnya

Skenario ketiga yang diam-diam didukung oleh sementara faksi di Golkar adalah membiarkan kader Golkar lain, Sultan Hamengkubuwono X, maju bersama Megawati ke bursa pilpres. Belum tuntasnya pencalonan keduanya diduga karena belum disepakatinya kontrak politik dengan PDIP, siapa jadi capres siapa cawapres. Kontrak politik ini nampaknya juga akan dibebani konsesi-konsesi ekonomi untuk melindungi kepentingan-kepentingan Golkar sebagai syarat atas dukungan rahasia partai kekaryaan ini kepada pasangan kandidat ini. Selain itu keberatan sebagian pendukung yang menolak bila Sultan hanya dicalonkan sebagai cawapres juga perlu diatasi dulu.

Sultan yang punya nama asli Herjuno Depito dan pernah bergelut dalam dunia bisnis sebagai Direktur Punakawan Grup memang pernah diramalkan akan menjadi ‘seseorang yang istimewa’. Tepat ketika Herjuno lahir pada 2 Maret 1946, ayahnya Sultan HB IX mengalami kejadian “aneh”. Seekor ayam jago hitam mulus yang dipelihara dekat ruangan penyimpan pusaka Keraton mendadak mati. “Seolah-olah jiwanya berpindah ke dalam tubuh anak saya,” demikian kisah Sri Sultan HB IX dalam biografinya, Tahta Untuk Rakyat.

Di masa kanak-kanaknya, Sultan yang sempat menyandang gelar KGPH Mangkubumi lumayan bandel. Ketika masih duduk di SD Keputran I, rapotnya dipenuhi banyak angka merah gara-gara terlalu suka bermain-main. Akibatnya dia sempat mengulang dan duduk sekelas dengan adiknya. Untungnya setelah kuliah selama 17 tahun di Fakultas Hukum UGM, dia bisa menyabet gelar Sarjana Hukum. “Saya terlalu aktif dalam kegiatan olahraga dan kesenian,” kilahnya.

Sultan dinilai memiliki komitmen pluralitas yang tinggi. Menurutnya, pluralisme negeri kita tak sekadar karena Indonesia mencakup bermacam-macam suku, agama ataupun ras, namun juga beragam karena faktor gender, profesi dan subkultur. Indonesia adalah bangsa yang belum selesai, dalam artian proses identitas bangsa masih dalam proses untuk “menjadi”. Karena itu jika tidak hati-hati, identitas itu bisa menguat sewaktu-waktu menjadi pemicu ketegangan di tengah-tengah masyarakat dan bangsa. Cara pandang inilah yang membuat Sultan dan istrinya menentang UU Pornografi. Hal ini jelas amunisi yang lebih dari cukup untuk menyudutkannya bagi lawan-lawan politiknya.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tanjung, menilai Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kandidat calon presiden paling ’sempurna’ dibandingkan figur politisi lainnya. Dengan kesempurnaan itu, Sultan bisa mendapat dukungan politik yang sangat besar. Menurut Akbar, capres di Indonesia ditentukan oleh tiga aspek, yakni popularitas, aksesibilitas, dan elektabilitas (kemungkinan untuk dipilih). Nah, kalau dilihat dari tiga aspek tadi, menurutnya peluang Sultan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini sangat memungkinkan.

Namun dasar orang kita yang suka slengekan, ada saja yang mengajukan pertanyaan konyol: Jika jadi maju sebagai calon presiden, bagaimana namanya ditulis di kertas suara? Para rival yang iseng bisa saja ngotot nama yang ditulis di kertas suara haruslah nama asli. Ini jelas merugikan karena hanya segelintir orang tahu bahwa nama aslinya adalah Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito. Katakanlah dia diperbolehkan menggunakan namanya saat ini, Sri Sultan HB X. Yang iseng pasti minta nama itu ditulis dengan lengkap. Bila permintaan itu disetujui yang pusing adalah KPU, diperlukan kertas suara yang besar agar muat. Ya, namanya memang panjang: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Dasa.

Tulisan asli: Kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: