uyungs

Jakarta neraka dunia?

In wakil rakyat on Desember 30, 2008 at 4:53 pm

Pada saat ini, gedung-gedung pencakar langit, jalanan macet yang dipadati oleh ratusan ribu kendaraan dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta , yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk tr ansportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.
Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis” .

Para pendatang/ wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional” ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.

Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi. 

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Pe tr onas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.

Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – ya ampyun….(pent. ) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik. 

Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.

Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Me tr o (Pu tr a Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr ajaya. Sistem “RApid” memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang “Sky Train” dan satu jalur me tro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin.

Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah. Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspa tr iat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspa tr iat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??

Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. “Kita harus berhati-hati” kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. ” Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti Jakarta !”

Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran villa pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.

 

Jakarta: In Need of Improvements
Andre Vitchek
Worldpress.org contributing editor
July 26, 2007

  1. Saya setuju dengan artikel saudara diatas.

    Nampak sekali perbedaan antara si-kaya dan si-miskin,dan realita yg terjadi sangat berbeda jauh dengan bayangan orang-orang selama ini.

    Salam kenal dari saya,ijinkan blog ini saya blogroll untuk silaturahmi:-)

  2. great…

  3. Thanks for your care to our city Jakarta

  4. sapa suruh datang jakarta.. sapa suruh datang jakarta…

  5. Apa pun yang terjadi gw tetep cinta kota ku ini, Indonesia-Jakarta.

  6. semuanya tumplek blek d jakarta si.. (entertain, pemerintah, bisnis, dll)
    coba tiap kota d bagi2, jd kn ga smua d jkt..

  7. kejamnya ibutiri tak sekejam ibukota.

  8. entah sampe kapan hal ini akan berlangsung?
    kapan bangsa ini “turn around” dari keterpurukan?

  9. hahaha…indonesia is the best

  10. Tapi karena sudah terbiasa dengan hidup yang sulit, orang jakarta jadi lebih tahan banting ( relative ).
    tidak tergantung pada pemerintah.
    karena hidup dalam lingkungan kumuh.
    bahkan mungkin perutnya sudah berevolusi menjadi tahan bakteri.
    kalau tidak percaya ajak aja orang malaysia atau orang jepang ( efectnya lebih jelas terlihat ) makan dipinggir jalan, pagi makan sore udah kerumah sakit.
    kalau orang kita mo pergi kemanapun…enjoy aja.

  11. jakarta 1001 persoalan dan mimpi….

  12. SETUJU!!
    jakarta memang mengerikan!!
    heran deh,,Indonesia kan sebenarnya bs kaya dan jadi negara yang makmur..
    kalau aja wrga ind ini bisa saling krja sama u/ mmbngun negeri,,bukan dengan egois berlomba-lomba korupsi..
    lgian kalopun stgh dr kkyaannya di ambil,,toh ga mngkin jg kan mereka bakal makan di pinggir jalan..
    knpa harus hidup kyak raja klo hidup biasa” aj udh cukup,,smntara orang lain ngais” sampah..
    itulha kjlekan mnusia,,egois,,memiliki jauh lebih banyak dari apa yang diperlukan..
    rasanya pengen dhe ngambil semua kkyaan orang di Ind,,truz dibagi rata smuanya..
    tp klo ngelyt keadaan jkt skrang,,kyaknya udh sulit banget buat memperbaiki keadaan..
    kalopun bisa juga pasti butuh waktu yang lama..

  13. Seandainya pejabat negeri ini memiliki hati yang takut akan Tuhan dalam menjalankan pemerintahan (katanya negara Pancasila yang berdasarkan Ketuhanan) ….. pasti ibu kota negara kita tidak akan jadi seperti ini, kesenjangan sosial yang mencolok, orang hidup dengan lu… lu… gue…gue. Habis perputaran roda ekonomi semua difokuskan di JKT (kata orang lho 80% perputaran uang dari seluruh Indonesia ada di JKT, makanya banyak orang ingin meraih harapan di Ibu Kota. Akibatnya ya…seperti yang kita lihat sekarang ini. Mungkin udah waktunya ibukota negeri ini dipindahkan. Toloooong gmn jalan keluarnya agar JKT “tidak jadi neraka dunia ?!” Gua mah cuma bisa berdoa aja ! Salam kenal buat penulis dan para komentator artikel ini, bravo !

  14. salam kenal, salut bwt artikelnya njenengan, aq minta gambarnya yo??
    matyrthankyou

  15. kalo saran gw she pulang2in aja tuh para pendatang,cz mereka yg bikin jakarta kumuh,contoh kl mo hari raya jakarta lengang sepi,udah kaya di luar negri dan jauh dr kriminal litas,tp sehabis lebaran rame lg tuh jakarta,kriminal muncul lg pendateng bw temen lg dr kampung kl ada kerjaanya she mending,ini g jelas mo jd apa,ya mentok2 jd maling,pemulung,pengemis,copet, gw yakin kl warga pribumi malu ngelakuin yg ky gitu,jd mending pulang deh.

  16. yah begitulah kawan,orang semakin tak peduli dengan orang lain dengan lingkungan apalagi masa depan,yang dia tahu dia sendiri kenyang sampai tujuh turunan,dan bagaimana kalau hal ini terjadi pada para pimpinan? siap siaplah kita semakin malu dalam pergaulan internasional,kebersamaan sudah nggak ada lagi,rakyat digebuki di negara lainpun tenang tenang saja,di mana NURANI berada?TUHAN gantilah hati para pemimpin kami dengan hati manusia!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: