Pidato pertama Barack Obama sebagai Presiden Terpilih
Sumber : Robot Funnies.com

Barack Obama, Obama, pidato Obama, pidato pertama, presiden terpilih
Pidato pertama Barack Obama sebagai Presiden Terpilih
Sumber : Robot Funnies.com

anak-anak, apolitis, Barack Obama, bayi, Generasi X, Obama, pemilih muda, pemuda, pemungutan suara, presiden Obama, remaja, segmen, sejarah Amerika, tim kampanye
Sudah banyak dibahas tentang sukses Obama merangkul anak-anak muda Generasi X dalam strategi kampanyenya. Boleh dikata anak muda Amrik berumur 18 – 24 tahun selama ini apolitis dan cuek bebek dengan yang namanya pemilihan presiden dan sejenisnya.

Namun justru karena kepiawaian tim kampanye Obama dalam menggarap segmen pemilih muda ini, maka 24 juta pemilih berusia 18-24 tahun, atau 54,5 persen orang muda—yang berhak memilih— bersedia pergi ke tempat pemungutan suara. Ini jumlah pemilih muda terbanyak sepanjang sejarah Amerika. …

Akhirnya yang terjadi adalah banyak negara bagian yang selama ini dikenal pro Republik bisa dimenangkan oleh Obama dalam perhitungan suara kemarin dulu itu.

Yang mengejutkan ternyata banyak anak kecil turut memilih Obama

Termasuk bayi-bayi juga menjadi fans Obama


Mereka juga rela antri berjam-jam untuk menggunakan hak pilihnya secara konstitusional.

balik layar, Barack Obama, basket, belakang layar, detik-detik bersejarah, ekspresi wajah, hari pemilihan, Obama, penghitungan suara, tahayul
Pada malam hari setelah hari pemilihan, ketika warga Amerika menyaksikan perhitungan elektoral Barack Obama semakin meningkat, dan satu demi satu negera bagian menjadi berwarna biru di layar teve, Anda mungkin akan merasa penasaran bagaimana rasanya di belakang layar bersama Obama?

Hal yang cukup mengejutkan pada malam perhitungan itu dimana keluarga lengkap Obama sedang menyaksikan detik-detik bersejarah adalah betapa nampak tenangnya Obama dan Michelle.

Namun tenang bukan berarti tidak perhatian. Hal ini nampak jelas di foto berikut. Hanya Obama sendiri yang tahu apa yang ada dalam benaknya, namun Anda mungkin bertanya-tanya apakah semua kenyataan ini -sejarah yang dia buat- akan membayang jelas dalam ekspresi wajahnya yang intens.

Dan buat Anda yang sempat meragukan ketrampilan Obama membuat poin dengan bola basket, silahkan teliti gerakannya yang luwes dalam menjaringkan bola ke keranjang.

Obama mengatakan dia bermain basket saat hari pemilihan untuk mendapat nasib baik. Nampaknya hal itu hanyalah sekedar tahayul yang sedikit banyak ada manfaatnya.
Sumber: Yahoo news
Barack Obama, Besuki, biografi, biografi Obama, Indonesia, Kripton, presiden, senator
Dia selalu mampu mengatasi tantangan sebagai ‘orang luar’, apakah itu sebagai satu-satunya anak Amerika di sebuah sekolah dasar di Indonesia, atau sebagai salah satu dari lima pelajar non kulit putih dari 1.600 siswa di SMA terfavorit di Hawaii. Terbentuk oleh orang-orang di sekitarnya, dibarengi dengan kualitas pribadinya yang cerdas, membumi, rendah hati sekaligus disiplin, dia berbakat merangkul banyak teman sekaligus merubah pandangan orang. Nah, sekarang dia ingin merubah Amerika, dan tentunya itu bisa berarti merubah dunia.
Barack Hussein Obama II dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu dari rahim seorang mahasiswa Universitas Hawaii yang masih amat belia, gadis kulit putih pindahan dari Kansas yang pindah ke negara bagian itu bersama orang tuanya. Ayahnya, Barack Obama Sr., seorang mahasiswa asing dari Kenya yang mendapat beasiswa belajar di Hawaii. Sebenarnya dia telah memiliki empat anak karena menikah muda pada umur 18 tahun, namun istrinya telah diceraikannya sebelum berangkat ke Amerika.
Sementara Ann Dunham melanjutkan kuliahnya setelah bercerai, dia terpaksa hidup dari kupon bantuan makanan pemerintah dan bantuan dari orang tuanya untuk merawat Obama sendirian. Akhirnya dia menikah lagi dengan mahasiswa asing Universitas Hawaii lainnya, Lolo Soetoro dari Indonesia.
Keluarga muda ini kemudian pindah ke Jakarta yang baru terguncang oleh pergantian rezim. Seiring ekonomi yang membaik, adik tiri Obama, Maya lahir pada tahun 1970. Sebentar Obama mencoba membaur di SD Katolik Asisi, namun tak bertahan lama. Di sekolah dasar yang baru SDN Besuki, Obama atau yang akrab dipanggil Barry, langsung mencuri perhatian. Dia satu-satunya wajah non-Indonesia di kelas yang dipenuhi anak-anak yang lebih kurus dan pendek. Kebiasaan Barry memakai tangan kiri nampak aneh di mata-mata temannya yang memandang hal itu kurang sopan. Namun dalam waktu tak lebih dari tiga bulan dia sudah mahir berbahasa Indonesia dan mulai punya banyak teman.
Banyak orang yang penasaran bagaimana reaksi Obama pada serangan terhadap Amerika Serikat, dan boleh jadi kita bisa sedikit mengira-ngiranya dari satu kejadian di masa kecilnya.
Seorang anak nakal pernah melempar Obama dengan batu membuat kepalanya berdarah. ”Obama hanya diam saja, ibunya selalu melarang dia berkelahi”, kenang seorang teman yang lain. ”Dia tidak pernah nakal atau berbuat usil. Dia bisa dibilang anak yang mendapat banyak limpahan kasih sayang”. Menginjak usia sepuluh tahun, ibunya Ann yang waktu itu bekerja dengan USAID, mengirim Obama ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya, Madelyn dan Stanley Dunham.
Pengaruh didikan mereka begitu mendalam di saat yang tepat pula, dan bisa dipahami apabila Obama terpaksa cuti dari kampanyenya untuk mengunjungi neneknya yang sedang memburuk kesehatannya. Dikabarkan dia tak mampu membendung linangan air mata ketika dikabari kepergian neneknya hanya selang sehari sebelum hari pemilihan presiden.
Pada Perang Dunia Kedua, Madelyn bekerja di pabrik pesawat tempur di Kansas sementara suaminya pergi berperang. Begitu perang berakhir, mereka pindah dan mendapatkan rumah di Hawaii mengikuti program pemerintah bagi para eks pejuang perang. Merekalah contoh-contoh positif bentuk dukungan negara yang kemudian membekas pada pemikiran Obama. Mereka bekerja keras agar Ann mendapat pendidikan yang terbaik. Maka ketika cucu mereka balik ke Hawaii mereka menyokong biaya sekolah Obama hingga kemudian bisa melanjutkan ke sekolah elit di SMA Punahou.
Pengalamannya bersekolah di sana tidak selalu mulus. Dia hanya segelintir pelajar berkulit hitam di sekolah itu, namun dia tidak pernah mengeluh dan emosinya tak pernah terpancing setiap kali dia diusik. Hanya selang beberapa tahun kemudian, ketika Obama menggambarkan siksaan rasial yang dialaminya di masa remaja dalam buku biografinya, Dreams From My Father, baru sahabat-sahabat karibnya saat itu menyadari betapa terluka hatinya.
Bagi mereka dia tidak lebih dari remaja biasa yang melihat karir satu-satunya di masa depan hanyalah sebagai pemain basket dan yang tidak terlepas dari godaan mariyuana, kokain dan alkohol. Selanjutnya Obama belajar ilmu politik di Universitas Columbia, New York dan merintis karir sebagai wartawan ekonomi. Setahun kemudian dia memanfaatkan program potongan pajak dan pindah ke Chicago untuk menjadi direktur LSM yang didanai gereja. Dia merasa pekerjaannya itu lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Atasannya waktu itu, Gerald Kellman, berkata: “Dia bersedia membela kepentingan orang miskin dan orang-orang yang terpuruk karena diskriminasi. Dia sangat idealistis. Obama terinspirasi oleh Dr Martin Luther King dan gerakan persamaan hak-hak sipil.”
Obama harus menjadi anggota sebuah gereja untuk mendapat dukungan pimpinan gereja bagi proyek-proyek LSM-nya dan dia bergabung pada Trinity United Curch of Christ, di mana Oprah Winfrey juga pernah tergabung.
Untuk melapangkan jalannya, Obama balik kuliah dan dengan gilang gemilang meraih summa cum laude di Sekolah Hukum Harvard. Di sela-sela liburnya dia pulang pergi ke Chicago, di mana dia bertemu gadis bernama Michelle Robinson di sebuah kantor pengacara tempat mereka sama-sama bekerja. Mereka bertunangan dua tahun kemudian dan dinikahkan pada tahun 1992 oleh Pendeta Dr Jeremiah Wright di gereja Trinity.
Loretta Augustine-Herron, salah satu undangan pernikahan berkata : “Kami tahu dia akan melenggang meraih cita-citanya. Bahkan di acara resepsi dia bertanya apa yang bisa dilakukan untuk teman-temannya. Saya hanya berteriak: ’Barack, satu-satunya yang kuinginkan adalah tiket masuk pesta perjamuan kepresidenan setelah kau dilantik’.”
Obama terus berjuang sebagai pengacara hak-hak sipil, membangun reputasi nasional yang kemudian sukses mengawalnya ke dunia politik. Buku Dreams From My father diterbitkan pada tahun 1995, tahun di mana ibunda Obama meninggal karena kanker. Tidak lama berselang, anak pertamanya lahir. Dia memiliki dua anak perempuan, Malia dan Sasha.
Dia mencalonkan diri sebagai senator Illinois pada tahun 2004 dan terpilih menjadi senator berkulit hitam kelima dalam sejarah Amerika. Hanya tinggal satu langkah lagi… Ternyata itu terwujud tepat pada tanggal 4 November 2008.
Tulisan asli di: Manajemen Perubahan
Sumber: The Sun
… sekedar berbagi kata dan gambar dengan harapan bisa mencerahkan, mengingatkan dan meluluhkan …
| Yuda di Foto-foto kucing yang luc… | |
| Ariska di Foto-foto kucing yang luc… | |
| mona mna ja di Foto-foto anak nakal | |
| cWe cute di Foto-foto anak nakal | |
| ramses di Batman anak Superman | |
| ramses di Ngapain liat-liat? | |
| ramses di Jakarta neraka dunia? | |
| oke di Rakyat beri SBY kesempatan ked… | |
| hadi lee di Tujuh Keajaiban Cina | |
| nUrmanto di Tebak siapa? | |
| nUrmanto di Foto-foto ganjil | |
| dhimz di Gak ada apa-apa kan.. | |
| ulie di Foto mustahil | |
| ryan di Foto-foto kucing yang luc… | |
| Dins di Geliat Cina, Raksasa Ekonomi… |
Blog pada WordPress.com. Theme: DePo Masthead by Derek Powazek