uyungs

Archive for the ‘Obama’ Category

Dituduh Marxis Kultural malah melahirkan presiden

In Obama on Februari 28, 2009 at 3:37 pm

Seorang wartawan menyebutkan aset politik terbesar Obama adalah tradisi multikultur yang tumbuh dalam keluarganya. Tradisi itu disemai oleh para perempuan yang dekat dengan kehidupan Obama, mulai dari ibunya, Stanley Ann Dunhamm hingga adik tirinya, Maya Soetoro. Kepada wartawan, Maya mengisahkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bersemayam dalam keluarganya adalah terutama berkat didikan sang ibu. Nilai-nilai keluarga ini pula yang merasuki pikiran, pandangan dan perilaku Obama.

Maya melukiskan ibunya sebagai seorang agnostik, tetapi sang ibu pula yang mengajarkan kebaikan-kebaikan ajaran spiritual. “Mama kerap menghadiahi kami buku-buku bagus: Injil, Kitab Hindu Upanishad, Budhisme, dan Tao Te Ching. Beliau menginginkan kami meyakini bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang indah untuk disumbangkan kepada dunia,” kata Maya. ”Kami sekeluarga kerap membaca Al Qur’an, bahkan setiap pagi kami kerap mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran selama di Indonesia.”

Nama Stanley Ann Dunhamm (29 November 1942 – 7 November 1995) mungkin asing bagi banyak orang. Namun dialah ibunda Presiden baru Amerika Serikat, Barack Obama.  Read the rest of this entry »

PIDATO PRESIDEN AS KE 44 OBAMA TERJEMAHAN

In Obama, Uncategorized on Januari 22, 2009 at 6:51 am

Barrack Husein Obama kemarin hari Selasa, 20 Januari 2008, telah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke 44 menggantikan presiden sebelumnya, George Walker Bush. Sebagaimana kita ketahui, Obama menyampaikan pidato yang bersejarah di hadapan sekitar 3 juta orang yang berkumpul di Washington dalam suhu dingin yang sangat menggigit. Diperkirakan lebih dari 1 milyar warga dunia juga turut menyaksikan lewat media elektronik, seperti televisi dan internet. Mungkin bagi warga Gaza, Palestina pidato tersebut agak mengecewakan karena tidak menyinggung nasib mereka secara langsung, namun milyaran warga dunia lainnya cukup merasa lega akan isi pidato yang penuh pesan perdamaian itu. Bagi kita mungkin perlu mendalami pesan-pesan Obama secara leberikut isi pidato pelantikan Obama yang lengkap beserta terjemahannya:

Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini berkhidmat dengan tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda amanatkan dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita dan juga atas kebaikan hati serta kerjasama yang ditunjukkannya selama masa transisi ini. Read the rest of this entry »

Pidato Pertama Obama sebagai Presiden Terpilih

In Obama on November 15, 2008 at 10:52 pm

Pidato pertama Barack Obama sebagai Presiden Terpilih

Sumber : Robot Funnies.com

Anak-anak Amrik pun memilih Obama

In Obama on November 15, 2008 at 12:17 am

Sudah banyak dibahas tentang sukses Obama merangkul anak-anak muda Generasi X dalam strategi kampanyenya. Boleh dikata anak muda Amrik berumur 18 – 24 tahun  selama ini apolitis dan cuek bebek dengan yang namanya pemilihan presiden dan sejenisnya.

Namun justru karena kepiawaian tim kampanye Obama dalam menggarap segmen pemilih muda ini, maka  24 juta pemilih berusia 18-24 tahun, atau 54,5 persen orang muda—yang berhak memilih— bersedia pergi ke tempat pemungutan suara. Ini jumlah pemilih muda terbanyak sepanjang sejarah Amerika. …  

Akhirnya yang terjadi adalah banyak negara bagian yang selama ini dikenal pro Republik bisa dimenangkan oleh Obama dalam perhitungan suara kemarin dulu itu.

Yang mengejutkan ternyata banyak anak kecil turut memilih Obama

Termasuk bayi-bayi juga menjadi fans Obama

Mereka juga rela antri berjam-jam untuk menggunakan hak pilihnya secara konstitusional.

Di balik layar bersama Obama di malam perhitungan suara

In Obama on November 14, 2008 at 11:45 pm

Pada malam hari setelah hari pemilihan, ketika warga Amerika menyaksikan perhitungan elektoral Barack Obama semakin meningkat, dan satu demi satu negera bagian menjadi berwarna biru di layar teve, Anda mungkin akan merasa penasaran bagaimana rasanya di belakang layar bersama Obama?

Hal yang cukup mengejutkan pada malam perhitungan itu dimana keluarga lengkap Obama sedang menyaksikan detik-detik bersejarah adalah betapa nampak tenangnya Obama dan Michelle.

Namun tenang bukan berarti tidak perhatian. Hal ini nampak jelas di foto berikut. Hanya Obama sendiri yang tahu apa yang ada dalam benaknya, namun Anda mungkin bertanya-tanya apakah semua kenyataan ini -sejarah yang dia buat- akan membayang jelas dalam ekspresi wajahnya yang intens.

Dan buat Anda yang sempat meragukan ketrampilan Obama membuat poin dengan bola basket, silahkan teliti gerakannya yang luwes dalam menjaringkan bola ke keranjang.

 

Obama mengatakan dia bermain basket saat hari pemilihan untuk mendapat nasib baik. Nampaknya hal itu hanyalah sekedar tahayul yang sedikit banyak ada manfaatnya.  

Sumber: Yahoo news

Biografi Obama: Perjalanan seorang manusia dari Kripton

In Obama on November 14, 2008 at 1:46 pm

Di sebuah acara makan malam untuk pengumpulan dana kampanye, Barack Obama pernah melontarkan guyonan bahwa dia sebenarnya utusan planet Kripton yang membawa misi menyelamatkan dunia. Kisah tentang Obama bukanlah kisah tentang orang yang meraih kejayaan dari kekayaan, namun kisah tentang seorang ’outsider’ yang dengan gilang gemilang mampu menemukan jalur ’insider’ bagi dirinya.

Dia selalu mampu mengatasi tantangan sebagai ‘orang luar’, apakah itu sebagai satu-satunya anak Amerika di sebuah sekolah dasar di Indonesia, atau sebagai salah satu dari lima pelajar non kulit putih dari 1.600 siswa di SMA terfavorit di Hawaii. Terbentuk oleh orang-orang di sekitarnya, dibarengi dengan kualitas pribadinya yang cerdas, membumi, rendah hati sekaligus disiplin, dia berbakat merangkul banyak teman sekaligus merubah pandangan orang.  Nah, sekarang dia ingin merubah Amerika, dan tentunya itu bisa berarti merubah dunia.  

Barack Hussein Obama II dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu dari rahim seorang mahasiswa Universitas Hawaii yang masih amat belia, gadis kulit putih pindahan dari Kansas yang pindah ke negara bagian itu bersama orang tuanya.  Ayahnya, Barack Obama Sr., seorang mahasiswa asing dari Kenya yang mendapat beasiswa belajar di Hawaii. Sebenarnya dia telah memiliki empat anak karena menikah muda pada umur 18 tahun, namun istrinya telah diceraikannya sebelum berangkat ke Amerika. 

Orang tua Obama berpisah ketika dia masih berusia dua tahun.  Setelah perceraian pada tahun 1964 itu, ayahnya kembali ke Kenya di mana dia menikah kembali dan memiliki  tambahan tiga anak lagi. Dia hanya sempat menengok Obama sekali pada tahun 1971, sebelum satu kecelakaan mobil merenggut nyawanya pada tahun 1982.  Auma Obama, adik tiri Obama, mengatakan :  ”Ayah selalu bicara tentang dia, bahwa satu hari kelak Barack akan pulang ke Kenya”.

Sementara Ann Dunham melanjutkan kuliahnya setelah bercerai, dia terpaksa hidup dari kupon bantuan makanan pemerintah dan bantuan dari orang tuanya untuk merawat Obama sendirian. Akhirnya dia menikah lagi dengan mahasiswa asing Universitas Hawaii lainnya, Lolo Soetoro dari Indonesia.

Keluarga muda ini kemudian pindah ke Jakarta yang baru terguncang oleh pergantian rezim. Seiring ekonomi yang membaik, adik tiri Obama, Maya lahir pada tahun 1970.  Sebentar Obama mencoba membaur di SD Katolik Asisi, namun tak bertahan lama. Di sekolah dasar yang baru SDN Besuki, Obama atau yang akrab dipanggil Barry, langsung mencuri perhatian. Dia satu-satunya wajah non-Indonesia di kelas yang dipenuhi anak-anak yang lebih kurus dan pendek.  Kebiasaan Barry memakai tangan kiri nampak aneh di mata-mata temannya yang memandang hal itu kurang sopan. Namun dalam waktu tak lebih dari tiga bulan dia sudah mahir berbahasa Indonesia dan mulai punya banyak teman.

Banyak orang yang penasaran bagaimana reaksi Obama pada serangan terhadap Amerika Serikat, dan boleh jadi kita bisa sedikit mengira-ngiranya dari satu kejadian di masa kecilnya.

Seorang anak nakal pernah melempar Obama dengan batu membuat kepalanya berdarah.  ”Obama hanya diam saja, ibunya selalu melarang dia berkelahi”, kenang seorang teman yang lain. ”Dia tidak pernah nakal atau berbuat usil. Dia bisa dibilang anak yang mendapat banyak limpahan kasih sayang”.  Menginjak usia sepuluh tahun, ibunya Ann yang waktu itu bekerja dengan USAID, mengirim Obama ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya, Madelyn dan Stanley Dunham.

Pengaruh didikan mereka begitu mendalam di saat yang tepat pula, dan bisa dipahami apabila Obama terpaksa  cuti dari kampanyenya untuk mengunjungi neneknya yang sedang memburuk kesehatannya. Dikabarkan dia tak mampu membendung linangan air mata ketika dikabari kepergian neneknya hanya selang sehari sebelum hari pemilihan presiden.

Pada Perang Dunia Kedua, Madelyn bekerja di pabrik pesawat tempur di Kansas sementara suaminya pergi berperang.  Begitu perang berakhir, mereka pindah dan mendapatkan rumah di Hawaii mengikuti program pemerintah bagi para eks pejuang perang. Merekalah contoh-contoh positif bentuk dukungan negara  yang kemudian membekas pada pemikiran Obama.  Mereka bekerja keras agar Ann mendapat pendidikan yang terbaik. Maka ketika cucu mereka balik ke Hawaii mereka menyokong biaya sekolah Obama hingga kemudian bisa melanjutkan ke sekolah elit di SMA Punahou. 

Pengalamannya bersekolah di sana tidak selalu mulus. Dia hanya segelintir pelajar berkulit hitam di sekolah itu, namun dia tidak pernah mengeluh dan emosinya tak pernah terpancing setiap kali dia diusik.  Hanya selang beberapa tahun kemudian, ketika Obama menggambarkan siksaan rasial yang dialaminya di masa remaja dalam buku biografinya, Dreams From My Father, baru sahabat-sahabat karibnya saat itu menyadari betapa terluka hatinya.

Bagi mereka dia tidak lebih dari remaja biasa yang melihat karir satu-satunya di masa depan hanyalah sebagai pemain basket dan yang tidak terlepas dari godaan mariyuana, kokain dan alkohol.  Selanjutnya Obama belajar ilmu politik di Universitas Columbia, New York dan merintis karir sebagai wartawan ekonomi. Setahun kemudian dia memanfaatkan program potongan pajak dan pindah ke Chicago untuk menjadi direktur LSM yang didanai gereja. Dia merasa pekerjaannya itu lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Atasannya waktu itu, Gerald Kellman, berkata: “Dia bersedia membela kepentingan orang miskin dan orang-orang yang terpuruk karena diskriminasi. Dia sangat idealistis. Obama terinspirasi oleh Dr Martin Luther King dan gerakan persamaan hak-hak sipil.”

Obama harus menjadi anggota sebuah gereja untuk mendapat dukungan pimpinan gereja bagi proyek-proyek LSM-nya dan dia bergabung pada Trinity United Curch of Christ, di mana Oprah Winfrey juga pernah tergabung.

Untuk melapangkan jalannya, Obama balik kuliah dan dengan gilang gemilang meraih summa cum laude di Sekolah Hukum Harvard. Di sela-sela liburnya dia pulang pergi ke Chicago, di mana dia bertemu gadis bernama Michelle Robinson di sebuah kantor pengacara tempat mereka sama-sama bekerja. Mereka bertunangan dua tahun kemudian dan dinikahkan pada tahun 1992 oleh Pendeta Dr Jeremiah Wright di gereja Trinity.

Loretta Augustine-Herron, salah satu undangan pernikahan berkata : “Kami tahu dia akan melenggang meraih cita-citanya. Bahkan di acara resepsi dia bertanya apa yang bisa dilakukan untuk teman-temannya. Saya hanya berteriak: ’Barack, satu-satunya yang kuinginkan adalah tiket masuk pesta perjamuan kepresidenan setelah kau dilantik’.”

Obama terus berjuang sebagai pengacara hak-hak sipil, membangun reputasi nasional yang kemudian sukses mengawalnya ke dunia politik. Buku Dreams From My father diterbitkan pada tahun 1995,  tahun di mana ibunda Obama meninggal karena kanker. Tidak lama berselang, anak pertamanya lahir. Dia memiliki dua anak perempuan, Malia dan Sasha.

Dia mencalonkan diri sebagai senator Illinois pada tahun 2004 dan terpilih menjadi senator berkulit hitam kelima dalam sejarah Amerika. Hanya tinggal satu langkah lagi… Ternyata itu terwujud tepat pada tanggal 4 November 2008.

Tulisan asli di:  Manajemen Perubahan

Sumber: The Sun

Foto Pernikahan dan Keluarga Barack Obama

In Obama on November 13, 2008 at 1:28 pm

Presiden terpilih Amerika SerikatBarack Obama dan keluarganya

Saat mengikat janji,

Barack Hussein Obama dengan Michelle LaVaughn Robinson, sama-sama lulusan Harvard Law School

kedua anak First Kids kini kabarnya ditawari main di “Hannah Montana” oleh Miley Cyrus

bermain-main dan bercanda dengan anak

 

 

 

 

sabar dan kasih dengan anak-anak: Sasha a.k.a “Rosebud” dan Malia a.k.a “Radiance” 

 

 

Album Koleksi Foto Lengkap Keluarga Obama

In Obama on November 13, 2008 at 12:49 pm

Anak dan Sang Ibu Muda yang keras hati tapi begitu welas asih dan penyayang pada sesama, yang menganggap Indonesia tanah air keduanya


 

Ayah dan anak

Barack Obama Sr. berfoto bersama dengan Obama  di bandara Honolulu dalam kunjungan satu-satunya menengok anaknya yang sedang bersekolah di Hawaii. Ketika itu Obama muda masih di kelas 5 Sekolah Dasar.

 

Barack Obama Sr., seorang mahasiswa asing dari Kenya, bertemu dengan calon istrinya, Ann Dunham, ketika mereka sama-sama kuliah di Universitas Hawaii, Manoa. Mereka menikah pada 2 Februari tahun 1961. Pada tahun 1963, dia meninggalkan keluarganya untuk mengambil program doktoral di Harvard. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di rumahnya di Menteng Jakarta, Ann Dunham berfoto bersama dengan suami keduanya, Lolo Soetoro, anak perempuan mereka, Maya dan Barack Obama.

 

Bagaimana dengan Kakek Nenek Obama?

 

Barack Obama berpose dengan kakek-neneknya dari pihak ibu, Stanley dan Madelyn Dunham ketika mereka berkunjung ke New York, menengok Obama yang sedang kuliah di Columbia. 

Barack Obama berfoto bersama dengan neneknya Sarah Hussein Obama di rumah ayahnya di desa NyangoKagelo, Kenya Barat pada bulan Agustus 2006. (AP)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam foto keluarga ini dalam kunjungan satu-satunya ke Kenya pada 2006, Obama bersama:  (berurutan bawah, dari kiri) Auma, saudara tiri, ibunya Kezia Obama, nenek Obama: Sarah Hussein Onyango Obama; (berurutan atas, dari kiri Barack Obama, Abango (Roy) Obama, dan kerabat lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.. sang ayah dengan cerutu

 

 

 

masa kecil Obama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Barack Obama bergambar bersama ibunya, Ann, adik tiri, Maya dan kakek Stanley Dunham di Hawaii pada awal tahun 1970an setelah pindah dari Indonesia.  Para tetangga mengenang kedekatan Obama dengan kakeknya.

Obama pada masa remaja

Barack Obama memeluk Maya, adik tirinya setelah wisuda SMA. 

 

Barack Obama dalam acara wisuda SMA Punahou pada tahun 1979. Sebelumnya ibunya memutuskan kembali ke Jakarta, Indonesia; Obama tetap tinggal bersama kakek neneknya di Hawaii.

 

 

 

Pada acara wisuda SMA, Barack Obama dipeluk neneknya Madelyn di sebelah Stanley yang berbinar-binar wajahnya. Kakek neneknya lah yang mengasuh Obama ketika ibunya memilih kembali tinggal di Indonesia.

 

Maya Soetoro-Ng, adik tiri Barack Obama, sedang mengajar di Universitas Hawaii dalam kelas Education in American Society.

Album Pernikahan dan Keluarga Baru Barack Obama di posting berikutnya.

Transkrip Terjemahan Pidato Kemenangan Obama di Chicago

In Obama on November 12, 2008 at 7:20 pm

Berikut adalah terjemahan oleh Arya Nasoetion dari transkrip pidato Senator Barack Obama di Grant Park Chicago, Illinois, setelah memenangkan pemilu presiden pada Selasa 4 November 2008. Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat ke 44, juga menjadi orang Afro Amerika pertama dalam sejarah Amerika yang menempati posisi puncak dengan cepat dari senator ke Gedung Putih.

 

Halo Chicago,

Jika masih ada yang meragukan Amerika adalah sebuah tempat di mana segala sesuatu mungkin untuk terjadi, yang masih bertanya-tanya apakah impian para pendiri negara ini masih hidup sampai saat ini, yang masih meragukan kekuatan dari demokrasi kita, malam ini adalah jawaban untukmu.

Jawaban ini berasal dari antrian yang terbentang di sekolah-sekolah dan gereja-gereja, dalam jumlah yang tidak pernah dilihat bangsa ini sebelumnya, oleh orang yang menunggu selama tiga jam, empat jam, banyak di antara mereka yang melakukannya untuk pertama kali dalam hidup mereka, karena mereka percaya bahwa sekarang pasti berbeda, bahwa suara-suara mereka bisa menjadi perbedaan itu.

Jawaban ini diucapkan oleh tua dan muda, kaya dan miskin, demokrat dan republiken, kulit hitam-putih, hispanik-asia, Amerika asli, gay, normal, cacat maupun tidak, orang-orang Amerika yang mengirimkan pesan pada dunia bahwa kita tidak pernah hanya berupa sekumpulan individual atau sekumpulan negara-negara bagian merah dan biru, kita selalu
menjadi dan akan tetap menjadi Amerika Serikat.

Jawaban ini diberikan oleh mereka yang selalu dipandang dengan sinis oleh banyak orang, dianggap penakut, dan peragu tentang apa yang bisa kita raih, untuk meletakkan tangan mereka di atas gerbang sejarah dan sekali lagi menuju harapan hari yang lebih baik.

Sudah sangat lama sekali. Tapi malam ini, dikarenakan apa yang sudah kita lakukan hari ini, dalam pemilu ini, dalam saat yang menentukan ini, perubahan telah datang ke Amerika.

Beberapa saat yang lalu malam ini, saya menerima sebuah telepon yang luar biasa rendah hatinya dari Senator McCain. Senator McCain telah berjuang dengan gigih dan lama di kampanye ini, dan dia bahkan telah berjuang lebih gigih dan lebih lama lagi untuk negara yang dia cintai. Dia telah bertahan menghadapi cobaan-cobaan untuk Amerika, yang bahkan
tidak bisa dibayangkan oleh kebanyakan dari kita. Kita menjadi lebih baik karena jasa yang diberikan oleh pemimpin yang berani dan tidak egois ini.

Saya mengucapkan selamat padanya, saya ucapkan selamat pada Gubernur Palin, atas segala pencapaian mereka, dan saya sangat menantikan untuk bekerja sama dengan mereka, untuk memperbaharui janji-janji bangsa ini dalam bulan-bulan mendatang.

Saya ingin berterima kasih rekan saya dalam perjalanan ini, seseorang yang berkampanye dari dalam hatinya, dan berbicara untuk pria dan wanita yang tumbuh besar bersamanya di jalanan Scranton dan teman seperjalanan pulang di kereta ke rumahnya di Delaware. Wakil Presiden Terpilih Amerika Serikat, Joe Biden.

Dan saya tidak akan berdiri di sini malam hari ini tanpa dukungan yang tak kenal lelah dari sahabat saya selama 16 tahun terakhir ini, kekuatan dalam keluarga kami, cinta dalam hidup saya, Ibu Negara bangsa ini yang berikutnya, Michelle Obama.

Sasha dan Malia, saya mencintai kalian berdua lebih dari yang bisa kalian bayangkan, dan kalian berhak mendapatkan anak anjing baru yang akan ikut kita ke Gedung Putih.

Dan meski pun dia tidak lagi bersama kita, saya tahu nenek saya sedang menyaksikan bersama keluarga yang telah menjadikan saya seperti sekarang ini, saya merindukan mereka malam ini, saya tahu hutang saya pada mereka tak terhingga jumlahnya. Kepada saudari saya Maya, saudari saya Auma, dan semua saudara dan saudari saya yang lain, terima kasih banyak atas dukungan yang telah kalian berikan pada saya. Saya sangat berterima kasih pada mereka.

Kepada manajer kampanye saya, David Plouffe, pahlawan tak dikenal dari kampanye ini, yang telah membangun kampanye politik, yang saya rasa, terbaik sepanjang sejarah Amerika. Kepada ketua strategi saya, David Axelrod yang telah menjadi rekan saya sepanjang jalan ini. Kepada tim kampanye terbaik yang pernah dibentuk dalam sejarah politik, kalianlah
yang memungkinkan ini terjadi, dan saya selamanya berterima kasih atas segala pengorbanan kalian untuk mewujudkan hal ini.

Tapi di atas semua, saya tidak pernah melupakan pemilik sesungguhnya dari kemenangan ini. Kemenangan ini adalah milik Anda, kemenangan ini adalah milik Anda. Saya tidak pernah menjadi kandidat yang paling mungkin untuk jabatan ini. Kita tidak memulai dengan banyak uang dan dukungan. Kampanye kita tidak terpusat di aula-aula di Washington.
Kampanye ini dimulai di halaman belakang rumah, di ruang keluarga, di teras depan. Kampanye ini dibangun oleh pria dan wanita pekerja keras yang menggali tabungan mereka yang hanya sedikit dan menyumbangkan 5 dolar, 10 dolar, 20 dolar untuk tujuan ini. Kampanye ini mendapatkan kekuatan dari orang-orang muda yang menolak mitos bahwa generasi mereka tidak mampu, yang mencintai rumah mereka, dan keluarga mereka untuk sebuah pekerjaan yang bergaji kecil dan waktu kerja yang panjang. Kampanye ini mendapatkan kekuatan dari orang-orang yang tidak begitu muda lagi, yang menantang dingin yang menggigit dan panas yang membara untuk mengetuk pintu orang-orang asing, dan dari jutaan orang Amerika yang secara sukarela mengorganisir dan membuktikan pada kita bahwa dua abad kemudian sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat belumlah musnah dari muka bumi. Ini adalah kemenangan kalian.

Dan saya tahu Anda melakukan ini tidak hanya untuk memenangkan sebuah pemilu. Saya tahu Anda tidak melakukan ini untuk saya. Anda melakukannya karena Anda paham beratnya tugas-tugas yang ada di masa depan. Karena bahkan ketika kita merayakan malam ini, kita tahu tantangan yang akan dibawa oleh masa depan, adalah yang terberat sepanjang hidup kita. Dua perang, sebuah planet yang terancam hancur, krisis finansial yang terparah selama seabad terakhir.

Bahkan pada saat kita berdiri di sini malam ini, kita tahu ada warga negara Amerika yang berani baru terbangun dari tidurnya di padang pasir Irak, di pegunungan Afghanistan untuk mempertaruhkan nyawa mereka untuk kita. Ada orangtua yang tetap terjaga setelah anak-anak mereka tertidur dan bertanya bagaimana cara membayar hipotek rumah, atau membayar tagihan kesehatan, atau menabung agar dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi.

Ada energi baru untuk dimanfaatkan, pekerjaan baru untuk diciptakan, sekolah-sekolah baru untuk dibangun, juga ancaman-ancaman untuk dihadapi, persekutuan untuk diperbaiki. Jalan ke depan akan panjang. Kita harus mendaki gunung tinggi. Kita mungkin tidak akan berhasil dalam setahun atau bahkan dalam satu masa jabatan. Tapi, Amerika, belum pernah saya memiliki harapan sebesar malam ini bahwa kita akan berhasil mencapainya. Saya berjanji pada Anda, kita sebagai sebuah bangsa akan mencapainya.

Akan ada langkah mundur, dan awal yang salah. Akan ada banyak di antara kalian yang tidak sependapat dengan tiap kebijakan yang saya keluarkan sebagai presiden. Dan kita tahu pemerintah tidak bisa menyelesaikan setiap masalah. Tapi saya akan selalu jujur pada Anda tentang tantangan yang kita hadapi. Saya akan mendengarkan Anda, terutama pada saat kita tidak sependapat. Dan di atas semua itu saya akan minta Anda untuk bergabung dalam pekerjaan untuk membangun kembali bangsa ini, dengan satu-satunya cara yang telah dilakukan selama 221 tahun di Amerika. Blok per blok, bata per bata, ruang per ruang.

Apa yang dimulai 21 bulan yang lalu di sebuah malam musim dingin tidak bisa berakhir pada malam musim gugur ini. Kemenangan ini sendiri bukanlah perubahan yang kita cari. Ini hanyalah sebuah kesempatan untuk membuat perubahan itu. Dan itu tidak bisa terjadi bila kita kembali ke saat-saat sebelumnya. Perubahan itu tidak bisa terjadi tanpa Anda. Tanpa semangat melayani yang baru, semangat berkorban yang baru. Jadi marilah kita menciptakan sebuah semangat yang baru, semangat patriotisme, rasa tanggung jawab, di mana masing-masing dari kita menjadi patriot dan bekerja lebih keras serta tidak hanya menjaga diri sendiri tapi saling menjaga.

Marilah kita mengingat bila ada pelajaran yang bisa dipetik dari krisis finansial ini, adalah kita tidak bisa memiliki sebuah “Wall Street” yang jaya tapi jalan yang lain menderita. Dalam bangsa ini, kita bangkit dan jatuh sebagai satu kesatuan. Mari kita menolak untuk kembali ke budaya partisan dan kelompok, dan ketidakdewasaan yang telah mencemari politik kita sekian lamanya. Marilah kita ingat bahwa seorang pria dari negara bagian ini yang pertama kali membawa bendera partai Republik di Gedung Putih, sebuah partai yang didirikan dengan nilai-nilai kemandirian, dan kebebasan individu dan persatuan nasional. Semua itu adalah nilai-nilai yang kita semua yakini. Dan meskipun partai Demokrat mendapatkan kemenangan besar malam ini, kita melakukannya dengan segala kerendahan hati, dan kegigihan yang telah mengobati apapun yang selama ini menghambat kemajuan kita.

Seperti yang pernah Lincoln katakan ke sebuah bangsa yang jauh lebih terkotak-kotak dibandingkan kita, kita bukanlah musuh tapi teman. Meskipun nafsu bisa membuat hubungan kita tegang, tapi tidak boleh memutuskan ikatan kasih sayang di antara kita. Kepada warga negara Amerika yang dukungannya belum saya dapatkan, saya mungkin tidak mendapatkan suara Anda malam ini, tapi saya mendengar suara-suara Anda. Saya membutuhkan bantuan kalian. Dan saya akan menjadi presiden Anda juga.

Dan untuk semua yang malam ini menyaksikan dari luar pantai-pantai kita, dari gedung-gedung parlemen dan istana-istana, bagi mereka yang mendengarkan dari radio di sudut dunia yang terlupakan, cerita kita satu dan nasib kita saling terhubung. Fajar baru kepemimpinan Amerika sedang menyingsing. Kepada kalian yang meruntuhkan dunia, kami akan mengalahkan kalian. Kepada kalian yang mencari perdamaian dan keamanan, kami mendukung kalian. Dan untuk mereka yang masih bertanya-tanya apakah pemancar-pemancar Amerika masih menyala terang, malam ini kita kembali membuktikan bahwa kekuatan sesungguhnya dari bangsa kita bukan datang dari letusan senjata kita atau dari kekuatan ekonomi kita tapi dari kekuatan ide-ide kita yang terus bertahan, demokrasi, kebebasan, kesempatan, dan harapan yang tak tergoyahkan. Itulah arti Amerika yang sesungguhnya.

Bahwa Amerika bisa berubah. Persatuan kita bisa disempurnakan. Apa yang telah kita capai memberikan harapan tentang apa yang bisa dan harus kita capai besok. Pemilu ini mencatat banyak pertama kali-pertama kali dan banyak cerita yang akan diceritakan selama beberapa generasi, tapi satu yang ada di kepala saya malam ini adalah tentang seorang wanita yang menggunakan hak pilihnya di Atlanta. Dia sama seperti warga negara lain yang mengantri dan menyuarakan pendapatnya di pemilu ini kecuali untuk satu hal, Anne Nixon-Cooper berusia 106 tahun. Dia dilahirkan hanya selang satu generasi setelah perbudakan dihapuskan, sebuah masa di mana tidak ada mobil di jalanan dan pesawat di angkasa, di mana seseorang sepertinya tidak bisa memilih karena dua alasan yaitu karena dia wanita dan warna kulitnya. Dan malam ini, saya berpikir tentang apa saja yang telah dilihatnya dalam seabad kehidupannya di Amerika. Masa sulit dan harapan, perjuangan dan kemajuan, masa-masa di mana kita diberitahu bahwa kita tidak bisa, dan orang-orang yang terus melawan dengan nilai Amerika itu, “Ya, kita bisa.”

Masa di mana suara wanita dibungkam dan harapan mereka diabaikan. Dia hidup untuk melihat mereka bangkit, bersuara dan menuju tempat pemungutan suara, “Ya, kita bisa.”

Ketika keputusasaan menyebar dan debu berjatuhan, depresi di seluruh negeri, dia melihat sebuah negeri menaklukkan rasa takutnya dengan perjanjian baru, pekerjaan baru, rasa tujuan bersama yang baru, “Ya, kita bisa.”

Ketika bom berjatuhan di pelabuhan kita, dan tirani mengancam dunia, dia ada untuk menyaksikan sebuah generasi bangkit menuju kejayaan dan demokrasi diselamatkan. “Ya, kita bisa.”

Dia ada untuk bus-bus di Montgomery, rumah-rumah di Birmingham, jembatan-jembatan di Selma, dan pendakwah dari Atlanta yang memberitahu orang-orang bahwa kita akan bertahan, “Ya, kita bisa.”

Seorang pria menjajakkan kaki di bulan, sebuah tembok runtuh di Berlin, sebuah dunia terhubung oleh ilmu pengetahuan dan imajinasi kita sendiri, dan tahun ini di pemilu ini, dia menyentuhkan jarinya ke sebuah layar, dan menentukan pilihannya, karena setelah 106 tahun hidupnya di Amerika, melalui masa-masa senang maupun susah, dia tahu bagaimana Amerika bisa berubah, “Ya, kita bisa.”

Amerika, kita sudah berjalan begitu jauh, kita sudah melihat begitu banyak hal, tapi masih banyak lagi yang harus dilakukan. Jadi malam ini mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, jika anak perempuan saya bisa hidup untuk melihat abad berikutnya, jika anak saya begitu beruntung untuk bisa hidup selama Anne Nixon-Cooper, perubahan apa yang akan mereka lihat? Kemajuan apa yang telah kita buat? Inilah kesempatan kita untuk menjawab pertanyaan itu. Inilah saat kita.

Inilah waktu kita untuk kembali menempatkan rakyat kita dalam pekerjaan, membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak-anak kita. Untuk mengembalikan kesejahteraan dan menciptakan tujuan-tujuan perdamaian, untuk kembali meng-klaim impian Amerika dan kembali memastikan kenyataan yang mendasar bahwa meski berbeda-beda kita adalah satu. Bahwa pada saat kita bernafas kita juga berharap dan ketika kita berhadapan dengan sinisme dan keraguan dan mereka yang menyatakan bahwa kita tidak bisa, kita akan membalas dengan nilai yang tidak berujung waktu itu yang merupakan inti dari semangat rakyat, “Ya, kita bisa.”

Terima kasih. Tuhan memberkati Anda dan semoga Tuhan memberkati Amerika Serikat.[]

 

Source: Milis LintasGF. Penerjemah Arya Nasoetion, editor,writer, translator.

Bagaimana Obama membuat Amerika lebih aman

In Obama, Uncategorized on Oktober 27, 2008 at 3:28 am

Dewasa ini, Amerika sedang berperang:

 

 

 

 

 

 

Di bawah kepemimpinan Obama, Amerika akan lebih damai:

 

 

 

 

 

 

 

Karena itu warga Amerika, jatuhkan pilihanmu dengan bijak.

Lontaran pernyataan rasis McCain kepada Obama

In Obama on Oktober 26, 2008 at 11:41 pm

Nampaknya McCain sangat terpojokkan oleh berbagai issu dalam pilcapres Amerika sehingga pada akhirnya dia terpancing mengeluarkan pernyataan yang benar-benar rasis kepada kubu lawannya, Obama.  Dia  mencoba mempersamakan Obama dengan Bush. Berbeda dengan lontaran-lontaran sakit hati yang dikemukakan oleh kaum liberal yang biasanya masih bernada sopan, kali ini perkataan McCain benar-benar secara obyektif bisa dikatakan rasis.  

Sebagaimana kita sama-sama tahu, Bush mirip dengan seekor monyet.

Jadi kalau dia mengatakan Obama mirip Bush, maka menurut anda pernyataan McCain mengandung arti Obama mirip siapa?

Wah dasar  SARA…

Lelucon politik seputaran pilcapres AS

In Obama on Oktober 26, 2008 at 8:38 am

Perang pernyataan, perang iklan, perang poster mewarnai hingar-bingar arena kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Tapi yang tidak kalah serunya adalah perang lelucon atau perang parodi. Harapannya lelucon-lelucon tadi ikut menyegarkan suasana yang agak memanas karena masing-masing pihak melempar ke publik iklan-iklan negatif yang memojokkan pihak lawan.

Ini satu contohnya ngelanturnya seorang pelawak yang bikin sakit perut, ngantuk-ngantuk jadi hilang:

Kalau aku pikir-pikir kalau Obama memang benar-benar seorang agen musuh yang ditanam untuk satu rencana aksi guna menghancurkan Amerika dari dalam, maka upayanya untuk jadi presiden memang masuk akal. Jika benar dia ingin membuat Amerika hancur, dia perlu tahu rahasia-rahasia kita, dan menjadi presiden Amerika  adalah satu-satunya jalan bagi orang yang punya jalinan seperti dia bisa mendapatkan akses ke sistem pertahanan secara konstitusional.

Jadi apa ya yang sedang dia rencanakan? Bisa jadi serangan ala teroris…. namun bisa juga pesta ulang-tahun kejutan bagi kita semua. Kita belum bisa tahu pasti masalah itu..